Bengkulu Selatan

Eksistensi Manusia Kerdil di Bengkulu Selatan Diteliti Mahasiswa UNY

BETVNEWS – Desa Palak Siring Kabupaten Bengkulu Selatan yang memiliki 981 jiwa dengan 542 laki-laki dan 439 perempuan ternyata terdapat manusia kerdil (dwarfisme) yang saat ini diteliti oleh tiga orang mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Ketiga mahasiswa yang melakukan penelitian ini diantaranya Arif Hidayat dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Giovani Eka Meilia dari Program Studi Psikilogi dan Muhammad Agusti Saputra dari Program Studi Psikologi.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh tiga mahasiswa tersebut untuk mengubah stigma manusia kerdil yang kerap menjadi sasaran pelecehan, cemooh dan kekerasan dari anggota masyarakat saat bekerja, berpergian atau saat menjalankan aktivitas kesehariannya.

Arif Hidayat mengatakan manusia kerdil di Desa Palak siring disebabkan beberapa faktor diantaranya ada keturunan gen dari perempuan dengan total 6-15 orang secara keseluruhan ada 30 orang di Kedurang yang manusia kerdil, adanya bawaan dari daerah Padang Guci Kaur ke Kedurang Desa Palak Siring, dan adanya kisah daerah dari Padang Guci Kaur.

“Kami ingin menulis buku monograf dan video dokumenter terkait penerimaan diri, eksistensi, dan komunikasi manusia kerdil di desa ini,” kata Arif seperti dikutip dari laman UNY.

Harapannya agar sesama manusia dapat saling menghormati dan menghargai sekaligus mengenalkan pada masyarakat bahwa manusia kerdil itu ada dan mereka bangga akan kondisi yang dimiliki.

Dengan begitu pemerintah Bengkulu Selatan tetap memperhatikan manusia kerdil yang ada di wilayahnya agar tetap bisa diakui keberadaannya.

Giovani Eka Meilia menambahkan bahwa mereka menggunakan beberapa variabel dalam penelitian ini diantaranya:

  • sumber referensi digital
  • wawancara angket tertutup
  • angket interpersonal communication

Tentu sebagai alat untuk melihat dan mengetahui bagaimana kemampuan dalam komunikasi antar-pribadi.

“Pertimbangan atau kriteria dalam pemilihan subjek yaitu cara berkomunikasi, pola kehidupan, dan bentuk interaksi di Desa Palak Siring yang menginterpretasikan akan dirinya dengan kondisi yang kerdil serta didukung pola pikir, usia, dan pendidikan,” terangnya.

Muhammad Agusti Saputra menjelaskan, hasil penelitian mereka menunjukkan masyarakat di Desa Palak Siring sudah menerima akan kondisi masyarakatnya yang kerdil walaupun masih ada beberapa masyarakat luar yang memberikan cemooh akan kondisinya.

“Manusia kerdil di Desa Palak Siring memiliki tekad yang tinggi dalam menempuh pendidikan dan juga mampu berinteraksi dengan masyarakat lainnya dengan baik,” urainya.

Namun, ditemukan pula fakta bahwa selaku teman akan selalu mendukung dan membela teman dalam kesulitan apapun apalagi ketika ada orang yang memberikan cemoohan terkait kondisi mereka yang kerdil.

Bahkan selaku orang tua ada kebanggaan tersendiri akan anaknya walaupun dengan kondisi yang kerdil karena dengan kondisi tersebut tetap bisa beradaptasi dengan masyarakat, dan ketika ada yang memberikan cemoohan mereka cukup diam serta bersabar karena kondisi kerdil adalah pemberian dari Yang Maha Kuasa.

Uniknya, manusia kerdil di Desa Palak Siring tidak pernah meluapkan amarah ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, karena memang dalam bermasyarakat harus mampu menerima keadaan dan memberikan nasihat satu dengan yang lainnya.

Disamping itu, manusia kerdil di Desa Palak Siring tidak menemui hambatan dalam mengakses pendidikan, karena sejatinya pendidikan adalah sesuatu yang wajib ditempuh dan mereka mampu melakukan hal tersebut.

Manusia kerdil juga mampu mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang ada, dan juga memiliki media sosial.

Sementara itu, Kepala Desa Palak Siring Rohadi menyebutkan, mayoritas warga di desanya berprofesi sebagai petani dan pekebun.

Penelitian ini berhasil meraih dana Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora sekaligus lolos seleksi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang dilaksanakan akhir Oktober secara daring. Ini adalah salah satu upaya UNY dalam tujuan pembangunan berkelanjutan pada bidang pendidikan bermutu.

(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *